Berbagai Panduan tentang Wisata Halal

2019-09-27 21:47:39

BERBAGAI PANDUAN TENTANG WISATA HALAL

 

Berdasarkan Fatwa DSN MUI Nomor 108/DSN-MUI/X/2016

Prinsip Umum Penyelenggaraan Pariwisata Syariah:

 

  1. Pihak penyelenggara wisata:

Wajib terhindar dari kemusyrikan, kemaksiatan, kemafsadatan, tabdzir/israf, dan kemunkaran; serta menciptakan kemaslahatan dan kemanfaatan baik secara material maupun spiritual.

 

  1. Terkait hotel:
  1. Hotel tersebut tidak boleh menyediakan fasilitas akses pornografi dan tindakan asusila;
  2. Tidak boleh menyediakan fasilitas hiburan yang mengarah pada kemusyrikan, maksiat, pornografi dan/atau tindak asusila;
  3. Makanan dan minuman yang disediakan hotel syariah wajib telah mendapat sertifikat halal dari MUI;
  4. Menyediakan fasilitas, peralatan dan sarana yang memadai untuk pelaksanaan ibadah, termasuk fasilitas bersuci;
  5. Pengelola dan karyawan/karyawati hotel wajib mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariah;
  6. Hotel syariah wajib memiliki pedoman dan/atau panduan mengenai prosedur pelayanan hotel guna menjamin terselenggaranya pelayanan hotel yang sesuai dengan prinsip syariah;

 

  1. Terkait destinasi wisata:
  1. Destinasi wisata syariah wajib memiliki fasilitas ibadah yang layak pakai, mudah dijangkau dan memenuhi persyaratan syariah; makanan dan minuman halal yang terjamin kehalalannya dengan Sertifikat Halal MUI.
  2. Destinasi wisata wajib terhindar dari kemusyrikan dan khurafat; maksiat, zina, pornografi, pornoaksi, minuman keras, narkoba dan judi; pertunjukan seni dan budaya serta atraksi yang bertentangan prinsip-prinsip syariah.

 

Berdasarkan Crescent Rating (di 130):

  1. Makanan halal
  2. Fasilitas salat
  3. Kamar mandi dengan air untuk wudhu
  4. Pelayanan saat bulan Ramadhan
  5. Pencantuman label non halal (jika ada makanan yang tidak halal)
  6. Fasilitas rekreasi yang privat (tidak bercampur baur secara bebas)

 

Berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI):

  1. Destinasi ramah keluarga
  2. Layanan dan fasilitas di destinasi yang ramah muslim
  3. Kesadaran halal dan pemasaran destinasi
  4. Keamanan umum bagi wisatawan muslim
  5. Jumlah kedatangan wisatawan muslim yang cukup ramai
  6. Pilihan makanan dan jaminan halalnya
  7. Akses ibadah yang mudah dan baik
  8. Fasilitas di bandara yang ramah muslim
  9. Opsi akomodasi yang memadai
  10. Kemudahan komunikasi
  11. Jangkauan dan kesadaran kebutuhan wisatawan muslim
  12. Konektivitas transportasi udara

 

 

PERBEDAAN WISATA KONVENSIONAL DENGAN WISATA HALAL

 

WISATA KONVENSIONAL

WISATA HALAL

Objek:

alam, budaya, heritage, kuliner

 

Objek: 

alam, budaya, heritage,  kuliner

 

Tujuan:

Menghibur

 

Tujuan:

Meningkatkan sprituaitas dengan cara menghibur

 

Target:

Menyentuh kepuasan dan kesenangan yang berdimensi nafsu,  semata-mata hanya  untuk hiburan

 

Target:

Memenuhi keinginan dan kesenangan serta meumbuhkan  kesadaran beragama

 

Pemandu Wisata: 

Memahami dan menguassai informasi sehingga bisa menarik wisatawan terhadap objek wisata

 

Pemandu Wisata:

Membuat turis tertarik pada objek sekaligus membangkitkan spirit religiutas wisatawan. Mampu menjelaskan fungsi dan peran syariah dalam bentuk kebahagiaan dan kepuasan batin dalam kehidupan manusia

 

Fasilitas Ibadah:

Sebagai pelengkap wisata

Fasilitas Ibadah:

Menjadi bagian yang menyatu dengan objek pariwisata, ritual ibadah menjadi bagian paket hiburan

 

Kuliner:

Umum

 

Kuliner:

Spesifik yang bersertifikat halal

 

Interaksi dengan Masyarakat:

Bersifat komplementar dan  hanya untuk keuntungan  materi

 

Interaksi dengan Masyarakat:

Integrated, interaksi berdasarkan pada prinsip syariah

 

Agenda Perjalanan:

Setiap waktu

 

Agenda Perjalanan:

Memperhatikan waktu (sholat)

Sumber: Ngatawi Al Zaztrow dalam Aan Jaelani, 2017

Artikel Terbaru Lainnya

INDEX ARTIKEL

Jakarta Sekretariat LPPOM MUI

Bogor Global Halal Centre

-->