Halal Harus Menjadi Faktor Utama Di Ranah Kebijakan

Jakarta - Ketahanan pangan dan asupan gizi, terlebih lagi makanan yang halal, merupakan masalah yang sangat krusial bagi perkembangan diri individu, keluarga maupun masyarakat. Banyak juga potensi asupan gizi yang murah-meriah dan siap dikonsumsi, ternyata terbuang percuma, karena pengolahan bahan pangan yang keliru.

“Dari data yang ada di ranah kebijakan, kaidah halal belum menjadi ketentuan utama. Maka kita mengharapkan persepsi halal ini harus diubah, menjadi faktor yang utama,” ujar Direktur LPPOM MUI Sumatera Selatan (Sumsel), Prof.Dr.Ir. Rindit Pambayun, M.P.

“Hal ini sangat penting, karena sebagai Muslim, dan penduduk beragama Islam sebagai mayoritas di negeri kita, maka tentu kita harus menaati perintah Allah dalam konteks mengkonsumsi makanan ini,” ia menandaskan.  

Pakar di bidang pangan ini pun menjelaskan, dari segi ilmu pangan, ada rumusan, makanan itu harus memenuhi empat syarat: better chef (pengolahan dengan resep yang baik), nutricious (bergizi), palatable (secara estetika tidak menjijikan, enak dimakan), kemudian ini muncul terakhir, has medical value, mempunyai nilai medis. Sehingga bagi badan, makananmu adalah obatmu, maka sembuhkan penyakitmu dengan makanan.

“Nah menurut saya harus ada yang kelima, yaitu harus halal bagi orang Islam. kalau selama ini saya mempelajari keempat hal yang telah disebutkan itu, maka aplikasinya yang kelima yaitu halal, ini matching sekali. ‘Kan di dalam Al-Quran, surat Al-Baqoroh disebutkan, “kuluu mimma fil ardhi halalan toyyiba”. Itu jelas sangat penting, dan merupakan bidang yang saya tekuni selama ini. Sehingga menurut saya, mestinya halal yang harus didahulukan, baru yang lain. Jangan terbalik, seperti yang terjadi selama ini.” Jelasnya lagi.

Begitu juga dalam penetapan kualitas daging segar, yang telah popular disebut dengan rumus singkat: ASUH. Artinya, daging itu harus Aman, Sehat, Utuh dan Halal. Lagi-lagi, halal sebagai yang terakhir, bukan sebagai ketentuan utama, yang pertama. Demikian analisa dan penjelasan yang diungkapkan oleh dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang ini dalam perbincangan dengan Usman Effendi AS., wartawan majalah Halal dan situs Halalmui beberapa waktu lalu.

Potensi Gizi Terbuang Percuma

Dijelaskan lagi oleh Pokja Tenaga Ahli dan Tenaga Teknis Dewan Ketahanan Pangan ini, thoyyib itu bisa bermakna sebagai kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi. Menurut analisanya lagi, banyak hal yang memprihatinkan dalam aspek gizi pangan atau bahan makanan ini. Sebagai contoh, Alhamdulillah, kita dikaruniai Allah makanan pokok yang sangat istimewa, beras. Dari sisi gizi, beras ini excellent sekali, sama dengan serelia lain seperti bit, gandum, sorgum. Di dalam beras ini banyak sekali nutrisi: karbohidrat, protein, lipida, vitamin, mineral. Beras itu dilengkapi dengan zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan tubuh kita. Subhanallah wal-hamdulillah. Kita harus bersyukur. Tentu bukan hanya Alhamdulilah, tapi harus juga dipikirkan, tafakaruu. Nah, disinilah masalahnya. Dengan adanya revolusi penggilingan, justru banyak dari zat gizi itu dibuang percuma. Lebih parah lagi Pemerintah, dalam hal ini Bulog yang bertanggung jawab tentang makanan bangsa ini membuat kebijakan sosoh untuk beras, misalnya. Dengan kebijakan itu, bukan hanya membuang kulit gabah pada padi, melainkan juga kulit ari yang mengandung zat gizi tinggi, bahkan juga bagian kepalanya yang sangat kaya dengan nutrisi; protein, vitamin, mineral, lipida. Itu bagian dari indosperm. Tapi malah dibuang begitu saja, sehingga relatif hanya tinggal karbohidratnya saja.

Lebih parah lagi, dilakukan Ibu-ibu yang memasaknya. Yaitu, beras dicuci dengan digosok, sampai air cuciannya menjadi jernih. Sehingga  nutrisi sisa yang masih ada sangat sedikit, juga terbuang percuma. Padahal makna halalan-thoyiban berarti mencakup juga kandungan gizi yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Makna thoyyiban, menurutnya sebagai orang pangan yang mengetahuinya, membuatnya sangat prihatin. Inginnya halal dan thoyyib. Tapi pada kenyataannya, aspek halal nomor sekian, atau relatif diabaikan. Lalu, thoyyibnya juga dilanggar atau dibuang.

Alternatif Solusi

Sebagai solusi, pakar bidang pangan ini pun mengusulkan dengan memberikan perbandingan tentang proses penyimpanan padi atau beras di India, misalnya. Sebelum padi digiling menjadi beras, padi itu di-steam uap panas terlebih dahulu. Dengan cara itu, kulit gabahnya terkelupas, namun kulit arinya masih tetap menempel pada bulir berasnya. Sehingga kandungan gizi pada kulit ari padi/beras itu tidak hilang terbuang dengan proses penggilingan. Dan tidak usah disosoh.

Hal semacam ini sudah sering ia kemukakan pula sampai tingkat gubernur dan tingkat nasional. Memang ada banyak yang memberi respon bagus tapi banyak pula yang santai-santai saja.  “Maka tentu kita perlu mengingatkannya terus, karena sebagian besar bangsa ini sumber nutrisinya relatif hanya dari beras. Dan kalau beras yang terjaga gizinya, itu saja sudah banyak asupan gizi yang diperoleh.” Demikian harapan yang dikemukakan. (Usm).
 


Nurul F   |    Friday, 11/04/2014

Pelatihan Sertifikasi Halal, APJI, Dinas Pariwisata DKI Jakarta & LPPOM MUI

jakarta - sebagai bentuk konsistensi dalam menjalankan program pariwisata syariah dki jakarta serta realisasi dari peraturan gubernur no. 158 tentang  sertifikasi halal restoran dan

Read More
   |    Friday, 11/04/2014

Dakwah dan Kearifan Lokal

bulan agustus 1982, almarhum bapak mr (mester in de rechte/sarjana hukum) h muhammad roem memberikan ceramah di hadapan anggota young muslim association in europe

Read More
   |    Thursday, 03/04/2014

Awas, Jurnalisme Prasangka Menyerang!

menurut beberapa pakar dan praktisi, karya jurnalisme yang paling tinggi nilainya adalah  hasil investigative reporting (liputan investigatif). disebut

Read More
   |    Thursday, 27/03/2014

Bakery Peluang Bisnisnya Besar, Cermati Titik Keharamannya

roti dan sejenisnya memang bukan makanan pokok bagi bangsa indonesia. namun, seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat perkotaan yang ingin serba praktis, plus kesadaran akan gizi yang

Read More
   |    Thursday, 27/03/2014

Waspadai Klaim 'Halal dalam Proses'

inayati tak menyangka bahwa produk roti yang ia beli di sebuah gerai pusat perbelanjaan ternyata belum jelas kehalalannya. padahal, sebagai ibu yang sehari-hari

Read More
   |    Tuesday, 25/03/2014

Pembekalan SJH bagi Auditor Perusahaan

bogor – bagi perusahaan, landasan untuk menjamin produksi yang halal adalah dengan memahami dan mengimplementasikan sistim jaminan halal (sjh) secara

Read More
   |    Monday, 24/03/2014

Siswa Labschool SMA Kornita Belajar Halal di GHC

bogor - “kalo gitu, kita harus berhati-hati jajan bakso di warung itu ya bu. karena belum ada sertifikat halalnya,” seorang pelajar putri curhat kepada

Read More
   |    Monday, 24/03/2014

Inilah Para Pemenang Olimpiade Halal

pada tanggal 10 maret 2014 pukul 10.00 wib, 20 orang siswa dari sma, ma, maupun smk yang tersebar di berbagai provinsi tampak konsentrasi di depan komputer

Read More
   |    Thursday, 20/03/2014

KF MUI Mengimbau, Iklan Produk Halal Dengan Cara Yang Halal

jakarta – banyak warga masyarakat melakukan komplain dan melapor ke majelis ulama indonesia (mui). ada produsen produk mie instan terkenal yang telah mendapat

Read More
   |    Friday, 14/03/2014

Mahasiswa UIKA Pelajari Sertifikasi Halal

bogor - berbagai lapisan masyarakat terus berkunjung ke global halal centre (ghc) untuk mendapatkan informasi tentang halal. diantaranya, mahasiswa universitas ibnu

Read More
 
 < 12 3 4 >  Last ›