Info Halal

Pertama Di Dunia, Vaksin Flu Difatwakan Halal

Jakarta – Setelah melalui serangkaian pengkajian yang mendalam dan pembahasan dengan berbagai argumentasi, Komisi Fatwa (KF) MUI menetapkan fatwa suci dan halal untuk vaksin influenza yang diproduksi  oleh Hualan Biological Bacterin Co.Ltd., China. Dengan penetapan fatwa ini, maka vaksin flu tersebut halal atau boleh dipergunakan oleh umat Islam.

 

“Karena tidak ada kandungan bahan yang najis dan haram, prosesnya juga sedemikian rupa, tidak ada kontaminasi atau bercampur dengan hal-hal yang Mutanajjis atau haram, maka produk vaksin influenza ini tidak bermasalah dari sisi syariah, dan karenanya difatwakan suci dan halal,” demikian ditetapkan KF MUI dalam Sidang Fatwa, 14 Maret 2017, yang disampaikan oleh Prof.Dr.K.H. Hasanuddin AF., Ketua KF MUI.

 

Dalam penjelasan Sekretaris KF MUI, Dr.H.M. Asrorun Niam Sholeh, M.A., dikemukakan, bahwa pembuatan vaksin influenza itu merupakan hal yang baru. Karena media pertumbuhan dan pembiakan virusnya menggunakan telur ayam yang dieramkan selama 9 hari. Sedangkan vaksin-vaksin jenis yang lain menggunakan darah, yang dihukumi najis dan haram. Dari proses yang ditemukan di lapangan, semuanya diketahui tidak ada masalah dari sisi Fiqhiyyah Syariah. Selain itu ada pula proses Tath-hir (pensucian), atau disebut sebagai proses purifikasi menggunakan air murni yang mengalir dalam beberapa tahap.

 

Lebih lanjut dia menjelaskan pengalamannya ketika turut melakukan audit lapangan di perusahaan Hualan Biological Bacterin Co.Ltd., China, dari pengamatan yang kami lakukan, proses produksi vaksin influenza ini terbukti tidak ada interaksi atau tidak terkontaminasi dengan barang yang haram maupun najis. Bagi kami jelas ini merupakan hal yang baru, sekaligus sebagai momentum di tengah aturan Undang-undang Jaminan Produk Halal (JPH) yang mengharuskan seluruh produk pangan, obat-obatan dan kosmetika serta barang gunaan yang diproduksi atau diedarkan di Indonesia, harus terjamin kehalalannya.

 

“Bukan hanya pangan, tetapi obat-obatan juga harus halal,” tandasnya lagi.

 

Dari pengamatan ini, paparnya lagi, dapat dipahami dan diambil pelajaran bahwa dengan riset yang serius oleh para ahli farmasi, serta temuan yang kita peroleh di China itu, melalui produksi vaksin dari Hualan, menjadi bukti bahwa pada hakikatnya, pengembangan obat-obatan itu bisa menggunakan bahan yang terbebas dari bahan yang najis maupun haram, sepanjang kita mau berikhtiar.

 

Tantangan Sekaligus Peluang Jihad Keilmuan

 

Maka disinilah pentingnya tanggung-jawab kita, khususnya para ilmuwan di bidang farmasi, untuk terus melakukan riset, penelitian dan pengembangan guna memastikan bahwa seluruh produk obat-obatan itu terjamin kehalalannya. “Dan ini merupakan bagian dari Jihad Keilmuan,” ia menekankan tentang urgensi hal ini.

 

Jadi tanggung-jawab da’wah bukan hanya oleh para ulama di bidang Fiqh atau keagamaan dalam pengertian yang sempit-terbatas semata. Tetapi juga menjadi tanggung-jawab setiap akademisi (Muslim) di bidang keilmuannya masing-masing.

 

Nah, bagi para ilmuwan yang bergerak di bidang farmasi, masih terbuka lebar ladang jihad, tantangan sekaligus peluang , untuk mendedikasikan keilmuannya guna menghasilkan dan memastikan bahwa obat-obatan yang dibutuhkan itu halal dan suci dari sisi syariah. Dan itulah hakikat dari makna firman Allah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fathir, 35:28).

 

Term atau ungkapan “Ulama” ini, tambahnya lagi, bukan hanya merujuk kepada para ahli Fiqh atau keagamaan saja. Tetapi juga merujuk kepada setiap ilmuan Muslim yang terpanggil dan dituntut untuk mendedikasikan disiplin keilmuannya untuk menuju Khosyyatullah, merasa takut serta taat kepada perintah Allah. Dan salah satu perintah itu adalah mewujudkan obatan-obatan yang halal. Dan jelas, itu juga merupakan bagian dari panggilan da’wah Islamiyah. (Usm).


 
Artikel Lainnya

© Copyright 2014 Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia