Info Halal

Hukum Makan Daging Dari Sesajenan

Pertanyaan

Assalamu’alaykum warahmatullah

Saya pernah mengikuti acara pemasangan pertama pondasi proyek pembangunan jembatan yang besar. Ketika itu ada penyembelihan kerbau, dipimpin oleh seorang kyai, dengan doa-doa. Lalu kepala kerbau dikubur di dekat pondasi proyek itu. Katanya sebagai sesajenan, tumbal untuk si penunggu daerah itu, agar proyek yang besar itu dapat selamat dari ‘gangguan’ si penunggu tempat. Nah, bagaimana hukumnya memakan daging dari sembelihan yang semacam itu pak ustadz?

Demikian pertanyaan dari kami dan atas jawaban yang diberikan kami mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.

Wassalam

Bayu, Tegal

 

Jawaban:

Kalau kita baca konteks ayat tentang penyembelihan hewan yang menyebutkan: wamaa uhilla lighoirillahi bih... (“dan apa-apa/daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah…” Q.S. 5:3). Maksudnya bahwa penyembelihan itu bukan saja zhahirnya harus menyebut Nama Allah, tetapi juga bahwa penyembelihannya itu secara batinnya memang ditujukan untuk ibadah atau amalan yang diperbolehkan Allah. Maka kalau ada penyembelihan dengan menyebut Nama Allah, tetapi diperuntukkan untuk hal-hal yang menyimpang dari Tauhid, apalagi ke arah Syirik seperti yang disebutkan untuk tumbal itu, maka dagingnya tetap dihukumi haram untuk dimakan. Karena ayat itu mesti kita pahami bukan secara zhahir saja, melainkan secara bathiniyah, dalam arti hal-hal yang dimaksud atau ditujukan dengan amal-perbuatan yang dilakukan, harus sinkron antara amalan zhahir dengan bathinnya. Maka walaupun hewan sapi atau kerbau itu disembelih dengan menyebut Nama Allah, tetapi dimaksudkan untuk tumbal, sesajenan atau yang semacam itu, yang jelas-jelas merupakan perbuatan syirik, maka itu menjadi haram hukumnya.

Dalam hal ini, kita harus memahami ajaran Islam secara Kaaffaah, secara totalitas. Tidak boleh sebagian-sebagian, secara parsial. Seperti itu tadi, menyembelih dengan menyebut Nama Allah, pakai doa-doa, mungkin juga dipimpin oleh seorang yang disebut kyai, tetapi kepala hewan ditanam untuk tumbal atau sesajenan.

Apalagi kalau itu dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi keinginan Jin atau Setan yang katanya akan mengganggu. Jelas itu merupakan bentuk kemusyrikan, menyalahi Aqidah, yang dilarang dalam agama! Seolah-olah ada keyakinan bahwa untuk menghindari gangguan, agar selamat, adalah dengan meminta perlindungan kepada Jin atau Setan, dengan memberinya sesajenan. Bukan meminta kepada Allah.  Perhatikanlah makna ayat yang tegas menyatakan: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (Q.S. 1:5).

Dalam ayat yang lain dikemukakan: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Q.S. 72:6).

Oleh karena itu, kita mengingatkan bersama, kalau ada proyek pembangunan, seperti yang disebutkan itu, kita boleh berdoa, menyembelih sapi dengan menyebut Nama Allah. Lalu dagingnya dimakan bersama, atau dibagikan kepada kaum fakir-miskin. Tapi jangan ada niatan dan amalan yang lain, seperti kepalanya ditanam, untuk menjadi tumbal atau sesajenan!

Dari sisi lain, perbuatan seperti menanam kepala sapi itu juga bisa dipahami sebagai perbuatan Tabdzir, perbuatan dosa, “idho’atul maal” menyia-nyiakan harta, itu termasuk saudaranya Setan. “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (mubadzir). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. 17: 26-27).

Maka jelas, kita harus memperbaiki kesesatan semacam ini. Dan itu bisa! Kami pernah punya pengalaman. Di kampung kami, ada seorang pengusaha mau membangun pabrik penggilingan padi. Konon katanya dari awal pengerjaan pembangunan itu, ada saja pekerjanya yang kecelakaan, terkena musibah. Sampai mesin penggilingan padi yang baru dibeli, setelah dipasang, ternyata ada gangguan, tidak bisa jalan. Katanya hal itu terjadi karena ada yang mengganggu, dan meminta tumbal atau sesajenan, kepala sapi atau kerbau, kalau mau selamat. Namun kami dengan para ulama setempat sepakat tidak mau memenuhi permintaan yang jelas menyesatkan itu. Tapi kita bersama-sama membaca doa, berdzikir, meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah, di tempat shohibul bait itu. Dan Alhamdulillah, pada akhirnya semua berlangsung selamat.

 


 
Artikel Lainnya

© Copyright 2014 Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia