Info Halal

Hukum Alkohol

Pertanyaan

Assalamu’alaikum warahmatullah

Saya masih bingung pak Ustadz, dengan ketentuan hukum alkohol, karena ada yang mengatakan haram dan sebagai najis. Tetapi ada juga yang menyatakan tidak haram. Dalam beberapa kesempatan, bahkan ada yang menyebutkan alkohol dapat dipergunakan sebagai bahan pencuci alat-alat produksi bahan pangan yang dikonsumsi umat. Lantas bagaimanakah yang sebenarnya. Maka dengan ini saya meminta penjelasan, bagaimana hukum mengkonsumsi dan/atau menggunakan alkohol itu?

Atas jawaban dan penjelasan dari bapak Ustadz, saya mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Wal-hamdulillahi robbil ‘alamin.

Wassalam

Opik, Citeureup

Jawaban:

Pada dasarnya, alkohol itu merupakan zat yang suci, kecuali kalau diproses menjadi unsur dalam minuman keras (khamar), dan kalau telah menjadi minuman keras, berarti haram dan najis. Alkohol itu sendiri, menurut ulama Mesir terkemuka, Syaikh Athiyah As-Saqr, merupakan zat yang bersifat Muhlikat, bisa merusak. Maka meminum khamar yang jelas mengandung alkohol bisa merusak organ-organ tubuh. Karena bersifat merusak, maka dilarang atau jangan diminum.

Menurut fatwa MUI, alkohol itu dibedakan antara alkohol yang berasal dari industri khamar dan alkohol yang bukan dari industri khamar. Kalau alkohol dari industri khamar, para ulama di MUI sepakat, dihukumi haram dan najis. Sedangkan alkohol yang bukan berasal dari industri khamar, kalau dipakai sebagai bahan penolong dan tidak terdeteksi dalam produk akhir, maka ia boleh digunakan. Tidak bernajis. Jadi jangan disamakan antara khamar dengan alkohol. Karena, tidak semua alkohol itu merupakan khamar, tapi semua khamar pasti mengandung alkohol.

Dalam aspek aplikatifnya pada parfum, misalnya, kalau menggunakan alkohol dari industri khamar, maka ia dihukumi bernajis. Tapi kalau bukan dari industri khamar, maka tidak bernajis. Bahkan, bukan hanya untuk parfum, untuk proses dalam makanan saja, ia diperbolehkan, dengan syarat pada produk akhirnya, alkohol itu tidak terdekteksi.

Secara lebih rinci, dalam Fatwa MUI No.: 11, Th. 2009, yang ditetapkan pada 29 Dzulqa’idah 1430 H / 18 Nopember 2009 M, tentang Alkohol disebutkan: Alkohol adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apapun yang memiliki gugus fungsional yang disebut gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon. Rumus umum senyawa alkohol tersebut adalah R-OH atau Ar-OH di mana R adalah gugus alkil dan Ar adalah gugus aril.

Minuman beralkohol yang juga disebut khamar adalah: (a) minuman yang mengandung etanol dan senyawa lain di antaranya metanol, asetaldehida, dan etilasetat yang dibuat secara fermentasi dengan rekayasa dari berbagai jenis bahan baku nabati yang mengandung karbohidrat; atau (b) minuman yang mengandung etanol dan/atau metanol yang ditambahkan dengan sengaja.

Alkohol dari (industri) khamar adalah najis. Sedangkan alkohol yang tidak berasal dari khamar adalah tidak najis. Maka minuman beralkohol adalah najis jika alkohol/etanolnya berasal dari khamar, dan minuman beralkohol adalah tidak najis jika alkohol/ethanolnya berasal dari bukan khamar.

Penggunaan alkohol/etanol hasil industri khamar untuk produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya haram. Sedangkan penggunaan alkohol/etanol hasil industri non-khamar (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non-khamar) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: mubah, apabila secara medis tidak membahayakan. Namun penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamar (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non-khamar) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya: haram, apabila secara medis membahayakan.

 


 
Artikel Lainnya

© Copyright 2014 Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia