Info Halal

Sinergi Industri Halal Dan Lembaga Keuangan Syariah

Jakarta - "Indonesia telah menjadi pasar industri halal terbesar di dunia karena populasi muslim yang mencapai 87% dari total 260 juta jiwa. Komposisi demografi ini menjadi sinyal yang cukup baik bagi industri halal dan keuangan syariah Indonesia," demikian disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch (IHW), Dr. Ir. Ikhsan Abdullah, SH., MH., di talkshow bertajuk "Mendongrak Industri Halal dan Ekonomi Syariah Indonesia di Hotel Ashley, Jakarta pada 21 Agustus 2019.

Namun, dalam perkembangannya, lanjut Ikhsan, banyak tantangan seperti salah satunya bagaimana meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat khususnya pelaku usaha terhadap substansi halal. 

Lebih lanjut, kata Ikhsan, salah satu upaya mendongkrak industri halal dan keuangan syariah juga perlu dilakukan dengan mendorong lembaga keuangan syariah untuk membantu pembiayaan industri halal baik untuk pelaku usaha mikro, kecil maupun menengah (UMKM) agar bisa lebih berkembang. "Karena saat ini industri halal dan keuangan syariah berada pada rel yang terpisah, makanya perlu sinergi antar-kedua lembaga demi mendorong ekonomi syariah Indonesia," tutup Ikhsan. 

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Dr. Lukmanul Hakim, M. Si., mengatakan bahwa sertifikasi halal tidak hanya sebagai kualitas, namun lebih dari itu, sebagai competitive advantages (keunggulan bersaing) di dunia perdagangan halal internasional. Karena, lanjut Lukmanul, potensinya sangat besar. 

"Menurut data yang dilansir dari Global Islamic Market, 2015, industri halal secara global mencapai USD 2,4 triliun. Untuk makanan sendiri, mencapai USD 104,5 miliar. Dan halal di Indonesia sendiri, menurut Thomson Reuter, 2015, menduduki peringkat pertama di atas Turki dan Pakistan mencapai USD 190 miliar," lanjut Lukmanul. 

Dari potensi tersebut, lanjut Lukmanul, Indonesia ingin mengambil peran sebagai pelaku berapa persen. Karena makin besar pasar yang direbut, makin besar pula kesejahteraan para pelaku usaha, terutama UMKM. 

Lebih lanjut, Lukmanul mengatakan bahwa untuk mencapai hal tersebut, maka perlu ada sinergitas antara industri halal dan lembaga keuangan. Sinergi tersebut bisa berbentuk kebijakan dan keterlibatan dalam bentuk dukungan dana kepada para pelaku usaha UMKM. 

Adapun narasumber lainnya, Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia, Darojatun Sanusi terus mendorong agar pelaku usaha farmasi mensertifikasi halal produknya. Hal ini untuk memperluas pasarnya. 

Sementara itu, Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Ir. H. Adiwarman A Karim, SE., M.B.A., M.A.E.P., mengatakan bahwa permintaan akan halal di Indonesia semakin besar, dan ini menjadi potensi peluang yang luar biasa, ke depannya Indonesia bisa menjadi 4 kiblat dunia. 

"Indonesia bisa menjadi kiblat dunia dalam 4 sektor, di antaranya: Islamic fashion, halal food, Islamic fun, and entertainment. (YS)

 


 
Artikel Lainnya

© Copyright 2014 Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia