Info Halal

Kosmetika Halal Sangat Dibutuhkan Konsumen

Jakarta (11/10) - Pada pameran Cosmobeaute Indonesia 2018, selain hadir dengan konsultasi, juga diselenggarakan seminar halal bertajuk "Kebijakan dan Prosedur Sertifikasi Halal Kosmetika" yang digelar di Pre Function Hall B, Jakarta Convention Center.

 

Tampil sebagai pemateri, Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Ir. Hj. Muti Arintawati, M.Si., menyampaikan terkait prosedur sertifikasi halal kosmetika.

 

Dalam pemaparannya, Muti membahas bagaimana urgensi sertifikasi halal bagi industri kosmetika dimana, halal menjadi kebutuhan dasar konsumen muslim. Menurut data yang dilansir dari The World Fact Book, Juli 2016, populasi penduduk dunia mencapai 7.323.187.457, lebih dari 2,06 milyar adalah muslim, ato sekitar 28,26% (muslimpopulation.com, 2017). Di Indonesia sendiri muslim mencapai 90% dari total 250 juta penduduk.  Sehingga permintaan pasar pada produk halal sangat besar.

 

"Selain itu, kosmetika penting untuk disertifikasi halal karena alasan-alasan bahwa bahan baku bisa  berasal dari yang haram atau najis, beberapa produk kosmetik dapat diserap oleh tubuh melalui pori-pori dan bisa dimakan atau tertelan secara tidak sengaja serta bahan tahan air dari pemurnian," lanjut Muti.

 

Sementara itu, Kepala Riset dan Pengembangan LPPOM MUI, Prof. Dr. Purwantiningsih, MS.,  mengatakan perlunya mewaspadai asal bahan baku kosmetika. Karena bisa berasal dari hewan, tumbuhan, produk mikrobial, maupun dari organ tubuh manusia. Harus dapat dipastikan bahan terbebas dari unsur haram dan najis.

 

"Oleh karenanya, selain asal bahan, kosmetika perlu diperhatikan pula titik kritis lainnya, diantaranya sumber alat aplikasi kosmetika (kuas untuk memerahkan pipi, lipstik, bedak dan lainnya) serta fasilitas produksi," tambah Purwantiningsih. (YS)


 
Artikel Lainnya

© Copyright 2014 Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia